Senin, 29 Oktober 2018

B/Terserah - [part 2] Sebuah Penerimaan

Malam itu turun gerimis, bulan mengendap-endap di balik awan tipis-tipis. Ia mengingat-ingat kembali mimpi-mimpinya, kali ini lebih pelan, ia mencoba menghafal satu-satu wajah-wajah yang ia temui di sana, ia perhatikan dengan seksama. Senyumnya tersungging, sedikit saja di sudut bibirnya, sebelah kiri. Ia mengenang apa-apa saja yang masih bisa ia ingat, terakhir, sebelum ia mati, katanya. Ia sudah siap.

Malam itu jadi malam paling khusyuk yang lain— sebelumnya ia pernah serius meminta satu; doa yang ia harap menjelma anak panah; mimpi paling tajam yang menembus kepalanya berhari-hari; keyakinan yang hidup di dadanya ribuan hari— kini sebuah pelita yang hampir padam.

Dadanya sebelah kiri mulai nyeri, pikirnya; sudah waktunya. Ia menutup mata, membayangkan mimpinya sekali lagi. Ia belum mau pisah dengan mimpinya yang paling keras kepala itu; mimpinya yang paling belati. Penglihatannya mulai gelap. Pendar-pendar mulai pudar. Ia berjalan ke entah apa, paling gelap.

Jauh dan lama sekali.


hitam yang kian pekat.



Di saku kirinya tiba-tiba menyala pelita berwarna jingga, tidak begitu terang, tapi cukup untuk sebuah perjalanan paling gelap. Ia berdoa, sekali lagi; jika ia mesti pergi sekarang, ia ingin doanya terus menyala, paling tidak padamu; yang pernah ia ceritakan mimpinya dengan begitu jelas. Itu doa kebahagian, yang semoga terus lekat dan menyala.

Selepas berdoa, ia akhirnya memeluk dirinya sendiri; orang yang paling kuat mencoba bertahan selama ini, yang paling keras kepala tidak mau menyerah, dan yang paling sendiri— sebab mulai jarang ia temui. Ia memeluk dirinya dengan sangat erat; berterimakasih untuk semua upaya dan kesabaran. Ia peluk lagi; sebagai sebuah maaf untuk usaha-usaha yang gagal, pun sebagai penerimaan; bahwa ia sudah berupaya, tapi Tuhan memang tidak bisa didikte.

Ya, sebuah kebenaran yang mesti ia akui; ia boleh minta apapun ke Tuhan, tapi tidak bisa minta untuk ia saja yang mengatur semua.

Ia tertunduk, menemukan keyakinan-keyakinannya hanya remah-remah, kekuatan paling besar yang mampu menggerakkan apapun, selalu kepunyaan Tuhan. Ia mendadak cemas sebab sering lupa itu, ia cemas sebab mesti ditampar keras dulu baru ingat; kecemasan-kecemasannya kemudian sampai di ujung tenggorokan, ia tercekak; lirih dan luruh— dalam hati ia berserah, tapi tubuhnya menyerah. Tubuhnya berubah bayang yang hilang sedikit demi sedikit. Ia kehilangan kesadarannya.

***






B/Terserah - [part 1] Menunggu Mati

Pernahkah kamu merasa terlalu jauh dari mimpi-mimpimu? Bagaimana jika itu hanya bunga tidur yang kau bawa ke mana-mana ribuan hari?

Sebuah pertanyaan kini menggelantung di kepalanya, berulang-ulang, lebih cepat dari perputaran jarum jam di tangan kirinya. Pertanyaan itu memburu, lebih cepat dari detak jantungnya kini, tapi nafasnya pendek-pendek, ia tersengal-sengal memasuki mesin waktu yang dicipta kepalanya sendiri.

Di sana, ia tidak menemukan siapa-siapa, ia berlari menuju ilalang, tempat rahasia yang ia hafal betul. Sepucuk surat warna biru, diberi ibumu waktu itu, katanya "ini ada puisi untukmu". Kosong.  Barangkali puisinya bubar karena ngambek tidak langsung dibaca saat itu, ia buru-buru mengejar ibu, yang ditunggu kamu. 

Angin berhembus pelan, ia menunggu waktu bertemu, siapa tahu akan bertemu anak lelaki itu lagi, anak lelaki kesayangannya yang baru dua kali bertemu. Anak itu punya mata dan hidung persis punyamu.

Hingga sore menjelang, tidak kunjung datang. Tidak ada siapapun. Matanya masih mencari-cari, hingga ia terbangun dengan sebuah pemandangan berwarna oranye. Gamboge!! Rupanya ia kelelahan mencari, ia sampai tertidur menunggu sebuah datang.

Sebentar, siapa itu?

Anak perempuan dengan rambut sebahu, matanya sendu. Moya!! Ia berseru senang sambil setengah berlari ke arah Moya, tapi anak perempuan itu perlahan menghilang. Hari mulai gelap, dan tidak ada siapa-siapa, ia mulai kecewa. Sebaiknya aku kembali, katanya, dengan wajah tertunduk.

Mencari-cari jalan pulang. Belum sempat ketemu, kakinya kini sobek terkena belukar. Kakinya berdarah, ia terpaksa tinggal. Bulan menggantung di langit, juga matanya. Ia mulai berkaca-kaca, merasa tidak aman.

Ia lalu terhempas ke mimpi-mimpinya yang lain, perjamuan yang wangi, di tengah-tengah ada sepasang yang menari. Sekelebat sekelebat saja, hingga ia tiba ke sebuah taman dengan pohon rindang, di sana ada sepasang yang lain, anak-anak kecil. Laki-laki dan perempuan. 

Air matanya sudah sampai di pipi, orang-orang itu hanya ada di mimpinya, sedang kini ia sendiri, mencoba membalut lukanya dengan pucuk-pucuk ilalang, tidak ada yang membantu, tidak pula seorang teman untuk berbagi cerita atau kelakar bodoh tentang kelinci terjebak yang menunggu pagi. Pulang pagi.

Suara jangkrik tiba-tiba memecah keheningan, ia senang sekaligus sedih. Senang karena senyap itu kini pecah, tapi ia tetap mau pulang. Ia mulai bernyanyi, menghibur diri sendiri. Suaranya lirih, yang bising hanya jangkrik dan suara-suara di kepalanya.

***

Pagi bertemu pagi, malam ketemu malam, ia tak kunjung ketemu jalan pulang. Sial! Ia mulai kehabisan akal, berkali-kali ia mengumpat karena marah. Ia pikir ia akan mati di sini jika tak segera bertemu jalan pulang, luka di kakinya mulai infeksi, sakitnya sudah sampai di kepala. Ia pusing mau pulang.

Ia tidak berhenti, ia dicipta terlalu keras kepala dan keras hati untuk menyerah, tapi keberuntungan belum berpihak. Hari-hari mencari menjadi hari-hari yang lambat, dan dengan tidak ada siapa-siapa, satu-satunya yang paling mungkin adalah berdamai dengan diri sendiri— memeluk diri sendiri. Sayangnya, memeluk diri sendiri juga bukan perkara mudah ketika kamu merasa terlalu patah- terlalu banyak borok di hatimu; atau terlalu kehabisan tenaga mengejar apa yang terlalu kamu ingini.

Suara-suara itu muncul dari dalam, kian hari kian memekik. Setelah lelah memaki apa saja, ia sampai pada kepasrahan; siap menunggu mati. Ia menunggu mati. Baginya semakin kecil kemungkinan ia keluar dengan luka yang menjalar dan masih harus mencari jalan pulang, tanpa bantuan sesiapa.

*continued