Rabu, 12 April 2017

Anak Lelakiku.


Ini ibu,
Kamu mirip sekali ayahmu. Hidung, juga matamu. Aku menyayangimu jauh sebelum kita bertemu. Anak lelakiku, ayahmu sama sepertiku, begitu menyayangimu. Kepalamu di bahunya ketika kamu tertidur, ia menggendongmu. Aku berada tepat di belakang. Lalu kau tumbuh makin besar, kau bercerita padaku bagaimana kau dan ayahmu menghabiskan waktu bermain bersama.
Padamu tumbuh separuhku, ialah nafas ayahmu, kekasih yang hidup di dadaku dan membangun rumah di sana entah sejak kapan. Aku menyayangimu, ada ia tumbuh di dalammu, kamu persis ayahmu.
Anak lelakiku, sampai berjumpa kemudian. Aku mau ke bintang, mata ayahmu yang kilap. Pendarnya selalu teduh yang mengajak pulang. Nanti kita di sana bersama, sehabis hujan di kepala ibu, yang diredakan terang pagi hati ayahmu, seperti selalu.

— malam larut.

Tidak ada komentar: